×

ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN FILARIASIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KALEKE DAN PUSKESMAS BALUASE KABUPATEN SIGI TAHUN 2019

Christine Christine Christine
This article has been read 84 times.
This PDF has been read 54 times.

Abstract

Kabupaten Sigi merupakan kabupaten endemis filariasis di Sulawesi Tengah. Selama tahun 2013-2017, tercatat 81 kasus dengan penderita meninggal 11 orang. Puskesmas dengan jumlah kasus tertinggi adalah Kaleke (16 kasus) dan Baluase (11 kasus). Faktor lingkungan (fisik, biologik, sosial, ekonomi dan budaya) sangat berpengaruh terhadap distribusi dan mata rantai penularannya. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor risiko kejadian filariasis di wilayah kerja Puskesmas Kaleke dan Puskesmas Baluase.

Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan studi kasus-kontrol. Subyek penelitian terdiri atas 18 orang penderita sebagai kasus dan kontrol 36 orang. Sehingga total sampel adalah 54 orang. Variabel penelitian adalah 1) faktor individu (jenis kelamin dan pekerjaan); 2) faktor perilaku (kebiasaan keluar rumah pada malam hari, kebiasaan menggantung baju dalam rumah, penggunaan kelambu, penggunaan anti nyamuk); 3) faktor lingkungan fisik (penggunaan kawat kasa dan keberadaan genangan air).

Berdasarkan hasil penelitian, faktor yang berhubungan dengan kejadian filariasis adalah kebiasaan keluar rumah pada malam hari (nilai p = 0,017) dengan Odds Ratio 5,179 yang artinya orang dengan kebiasaan keluar rumah pada malam hari berisiko 5,176 lebih besar terkena filariasis dibandingkan orang yang tidak memiliki kebiasaan tersebut. Saran bagi masyarakat: 1) menggunakan anti nyamuk serta pakaian lengan panjang dan celana panjang untuk mengurangi kontak dengan nyamuk; 2) menjaga kebersihan lingkungan untuk mencegah tempat perindukan dan peristirahatan nyamuk.

Full Text:

PDF

References

Amelia, R., 2014, Analisis Faktor Risiko Kejadian Penyakit Filariasis, Unnes Journal of Public Health, Vol. 3 No. 1.

Ardias, Setiani, O., Hanani, Y. D., 2012, Faktor Lingkungan dan Perilaku Masyarakat yang Berhubungan dengan Kejadian Filariasis di Kabupaten Sambas, Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia, Vol. 11 No. 2.

Badan Litbangkes Kemenkes RI, 2013, Penyakit Menular Neglected, Jakarta: Kemenkes RI.

Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi. Laporan Kasus Kronis Filariasis Kabupaten Sigi Tahun 2013 – 2017.

Kuntoro, 2013, Dasar Filosofis Metodologi Penelitian, Surabaya: Pustaka Melati.

Menteri Kesehatan Repubik Indonesia, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 2014 tentang Penanggulangan Filariasis.

Nurjana, dkk., 2017, Studi Evaluasi Eliminasi Filariasis di Indonesia Tahun 2017 (Studi Multisenter Filariasis) di Kabupaten Donggala (Daerah Endemis Brugia malayi Non-Zoonotik). Donggala: Balitbang P2B2 Donggala.

Sastroasmoro, S., 2016, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis,

Udin, Y. dkk., 2016, Keragaman Anopheles spp pada Ekosistem Pedalaman dan Pegunungan di Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah. Jurnal Vektora Vol. 8 No. 2.

Uloli, R., Soeyoko, Sumarni, 2008, Analisis Faktor-faktor Risiko Kejadian Filariasis. Berita Kedokteran Masyarakat Vol. 24 No. 1.

WHO, 2013, Lymphatic Filariasis, Genewa: WHO Press.

Windiastuti, I. A., Suhartono, Nurjazuli, 2013, Hubungan Kondisi Lingkungan Rumah, Sosial Ekonomi, dan Perilaku Masyarakat dengan Kejadian Filariasis di Kecamatan Pekalongan Selatan Kota Pekalongan, Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia, Vol. 12 No. 1.