×

ANALISIS KEPADATAN NYAMUK DAN PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PENGGUNAAN TEKNIK SERANGGA MANDUL

Dwi Sutiningsih, Ali Rahayu, Devi Puspita sari, Ludfi Santoso, Sri Yuliwati

Abstract

Kota Semarang merupakan kota dengan kasus DBD tertinggi di Jawa Tengah dengan Kecamatan Ngaliyan sebagai daerah endemis tertinggi. Upaya pengendalian DBD sampai saat ini belum memberikan hasil memadai, sehingga diperlukan cara lain untuk membantu program pemberantasan vektor DBD, antara lain dengan Teknik Jantan Mandul atau yang lebih dikenal Teknik Serangga Mandul (TSM). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kepadatan populasi nyamuk dan pendapat/persepsi masyarakat di Kelurahan Ngaliyan terhadap penggunaan TSM dalam pengendalian vektor Demam Berdarah Dengue (DBD). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan desain study cross sectional. Pengambilan data dilakukan dengan observasi nyamuk Aedes aegypti dan wawancara mengenai pendapat masyarakat. Analisis data menggunakan analisis bivariat dengan wilcoxon sign test. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan TSM di kelurahan Ngaliyan dapat menurunkan tingkat kepadatan populasi nyamuk Aedes aegypti serta ada perbedaan pengetahuan dan sikap masyarakat sebelum dan setelah penggunaan TSM (p= 0.000 < 0.05)

 

Kata Kunci: teknik serangga mandul, kepadatan populasi nyamuk,persepsi masyarakat, Aedes aegypti

Full Text:

PDF

References

Dinas Kesehatan Kota Semarang. Laporan Jumlah Kasus Demam Berdarah di Kota Semarang. Dinas Kesehatan Kota Sema-

rang; 2014.

Simanjuntak H. Efektivitas Akar Tanaman Tuba (Derris elliptica) untuk Pengendalian Nyamuk Anopheles sp. Medan. Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara; 2005.

Depkes RI. Pedoman Survei Entomologi Malaria Ditjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Ditjen PPM & PL Depkes RI; 2004

Widiarti, Boewono DT, Widyastuti U, et al. Uji Biokimia Kerentanan Vektor Malaria terhadap Insektisida Organofosfat

dan Karbamat di Propinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Jakarta : Badan Penelitian Kesehatan 2002.

Wudianto R. Petunjuk Penggunaan Pestisida. Bogor : Penebar Swadaya 2002.

Alphey L, Benedict M, Bellini R, et al. Sterile-Insect Methods for Control of Mosquito-Borne Diseases (Online): http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PM C2946175 2014.

Helinski MEH, Knols BGJ. Mating Competitiveness of Male Anopheles arabiensis Mosquitoes Irradiated with A Partially-or

Fullysterilising Dose in Small and Large Laboratory Cages (Online) : http://edepot.wur.nl/12201 2014.

Steva L, Yang HM. Control of Dengue Vector by The Sterile Insect Technique Considering Logistic Recruitment. TEMA Tend Mat Apl Comput 2006.

Vloedt AMV, Klasen W. The Development and Application of The Sterile Insect Technique (SIT) for New World Screwworm Eradication (Online): http://www.fao.org/ag/aga/agap/FRG/FEED-back/War/u4220b/u4220b0j.htm. 2014.

Chung VT, Chan YC, Fund YP. Dengue Infection Rate in Field Population of Female Ae.albopictus and Aedes albopictus in

Singapore. Tropical Medicine and International Health. 2002; 7: 322.

WHO. Panduan Lengkap Pencegahan dan Pengendalian Dengue dan Demam Berdarah Dengue. Penterjemah: Palupi

Widyastuti. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC 2005.

Barrera R, Amador M, Clark GG. Ecological Factors Influencing Aedes aegypti (Diptera: Culicidae) Productivity in Artificial Containers in Salinas. Puerto Rico. J. Med. Entomol. 2006; 121(2): 1055-65.

Effler PV, Pang L, Kitsutani P, et al. Dengue fever, Hawai, 2001–2002. Emerg. Infect. Dis. 2005; 11: 742–749.

Soegijanto S. Demam Berdarah De ngue. Surabaya: Airlangga University Press 2004.

Notoatmodjo S. Promosi Kesehatan, Teori dan Aplikasinya. Jakarta : PT Rineka Cipta 2005.